Kesetiaan Abah
Bukanlah seorang ayah, tapi seorang kakek yang hidupnya penuh kesetiaan dan perjuangan dalam menghidupi sembilan anaknya setelah sang isteri tercinta dipanggil sang maha kuasa. Kesetiaan pada sang isteri untuk tidak mencari pengganti teman hidupnya yang bisa membantu dan mengurusi anak-anaknya yang masih kecil waktu itu. Perjuangan mengurus sembilan anak bukanlah perkara mudah.
Dulu tahun 1960’an rumah di desanya masih banyak hutan belantara, binatang buas masih berkeliaran di mana-mana. Karena daerah ini merupakan daerah transmigrasi dari pemerintah orde baru.
Jarak rumah-rumah di desa ini masih jauh, tapi tak sejauh mereka harus mencari nafkah kala itu. Abah memberi makan anak-anaknya dengan apa adanya. Kadang makan dengan nasi dan garam pun sudah biasa.
Ketika anak-anaknya mulai dewasa, satu persatu anak perempuannya pergi menjadi pembatu rumah tangga di kota dengan buruh 15.000 rupiah. Anak-anaknya banyak yang tidak menyelesaikan kewajiban pendidikannya. Mereka bukan tak mau, tapi mereka tak punya waktu dan uang untuk bersekolah. Mereka sibuk mencari makan untuk bertahan hidup di daerah baru yang tidak ada fasilitas publik.
Tapi abah begitu setia, mengurus sembilan anaknya yang mungkin kadang air mata berusaha disembunyikan dari anak-anaknya, karena mengurusnya sebatang kara. Air matanya ia sembunyikan, karena ia sadar seorang ayah harus gagah dan berwibawa di depan anak-anaknya. Ia hanya mengadu kepada sang maha kuasa disetiap sujud di atas sejadah dari kain apa adanya.
Mungkin nasib abah tidak seperti ini, jika ia tidak tertipu masalah ijazah pada tamat sekolah. Bisa dikatakan pendidikannya cukup tinggi kala itu. Tapi memang mungkin takdir tuhan yang memintanya untuk berjuang dengan jalan yang berbeda.
Hingga akhir hanyatnya, abah tetap setia dengan kesendiriannya tanpa teman hidup untuk mengurusi anak-anaknya.