The Unfair Trade Market: Komoditi Karet
Pagi buta setelah adzan subuh berkumandang dan sang fajar pun belum memperlihatkan dirinya di ufuk timur, namun sepasang suami-istri telah bersiap dan bergegas pergi ke tempat yang menjadi sumber penghidupannya di dekat kaki bukit, yaitu sebuah kebun karet yang luasnya hanya 1/4 hektar. Mereka pergi dengan motor butut yang usianya telah puluhan tahun dengan kondisi sudah tidak layak dipandang namun masih nyaman untuk dipakai. Karena tidak ada pilihan lain dari pada mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer melewati perkampungan hingga mendekati kaki perbukitan.
Gambar 1. Kebun Karet Sumber: www.produknaturalnusantara.com
Kebun karet yang dituju setiap pagi masih terlihat samar, karena embun masih menyelimuti tanaman karet yang baris berjajar yang kini mulai ditumbuhi semak belukar. Lahan kebun karet dengan luas 1 hektar bisa ditanami 500 hingga 700 pohon karet dengan jarak tanam 7×3 meter. Dengan asumsi itu, mereka yang hanya memiliki lahan 1/4 hektar, berarti maksimal hanya ada 150 pohon yang disadap. Tanaman karet baru mulai bisa disadap saat usia tanam maksimal 5 tahun dan mereka sebagai petani karet menggantungkan hidup pada tanaman ini sudah belasan tahun. Yang mereka harapkan dari tanaman ini adalah tetesan-tetasan getah dari pohon yang mereka ambil dengan alat sadap getah.
Getah dari pohon karet─yang dikenal juga dengan sebutan lateks─menetes setiap hari dan ditampung dengan wadah─biasanya menggunakan tempurung kelapa─yang mereka jual sekali seminggu. Tetes demi tetes getah yang dihasilkan pohon karet sangat berharga bagi mereka meski baunya tidak sedap bagi kebanyakan orang, tapi penciuman mereka sudah terbiasa. Tak peduli sebau apa, yang mereka pedulikan adalah tetesan getah itu bisa mengental/membeku ketika siang harinya dengan harapan tidak turun hujan setelah selesai disadap.
Memang cuaca menjadi significant factor bagi para petani terutama petani karet. Ketika hujan, mereka tidak bisa pergi ke kebun dan hujan yang membasahi pohon-pohon karet membuat pohon ini jika tetap disadap getahnya tidak akan masuk ke dalam wadah penampungnya. Ini membuat keringat petani terbuang sia-sia. Ketika musim kemarau, daun-daun pohon karet berguguran sehingga getah yang dihasilkan akan berkurang hingga 30 persen. Selain merupakan uncontrolable, kini cuaca juga menjadi uncertainty factor karena pengaruh global warming. Berakibat pada pendapatan petani tidak menentu. Karena kendala cuaca─misalnya hujan─dalam seminggu mereka pergi ke kebun hanya tiga-empat hari saja. Dan ini membuat produksi mereka berkurang.
Gambar 2. Pohon Karet sedang disadap Sumber: www.riaupos.com
Selain cuaca menjadi sebuah constraint of production, setelah panen mereka menghadapi harga yang tidak berpihak pada jerih payahnya dan keringat yang membasahi tubuhnya dari pagi hingga matahari di atas ubun-ubun. Mereka tidak bisa meminta harga dan tidak berdaya karena sebagai price taker. Bargaining power yang rendah tidak mampu menghadapi Tengkulak sebagai price maker. Margin harga yang ditawarkan tengkulak kepada mereka hampir lima puluh persen dengan harga yang diterima tengkulak di pabrik pengolahan karet. Mereka yang pergi pagi buta dan pulang tengah hari dengan bercucuran keringat setiap hari, mendapatkan harga yang tidak pantas dari tengkulak yang hanya menjemput seminggu sekali dengan menggunakan mobil pick-up yang mungkin tidak keluar keringat. Jangan pernah tanyakan apakah mereka pernah tersenyum setelah menjual hasil jerih payahnya, karena raut wajah terlihat kecewa setiap kali menerima uang dari tengkulak. Haknya tidak dibayarkan sesuai dengan beratnya usaha yang telah dilakukan.
Gambar 3. Getah Karet Sumber: www.produknaturalnusantara.com
High risk dan hard effort namun petani memperoleh low income. Sedangkan tengkulak yang low risk namun mereka memperoleh high income. Kemudian keuntungan tengkulak tidak hanya di situ, juga hasil produksi karet mereka dipotong satu hingga dua kilogram oleh tengkulak. Pemotongan satu kilogram untuk kualitas getah yang relatif bagus dan dua kilogram untuk kualitas getah yang relatif tidak bagus. Biasanya tengkulak sudah tahu petani yang memiliki produksi getah yang bagus dan tidak. Harga yang rendah dan pemotongan berat produksi memang membuat pasangan suami-istri ini tidak bisa mengelak dari usaha tani karet. Karena usaha tani ini sebagai primary livelihood, tidak ada sumber pendapatan lain untuk menggantungkan nasib mereka.
Gambar 4. Hasil Panen Getah Karet Sumber: www.medanbisnisdaily.com
Sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa diambil yang mungkin bisa membantu menyelesaikan permasalahan petani karet ini. Mereka harus menghilangkan ketergantungan mereka dengan tengkulak. (1) Pertama, petani karet membentuk sebuah kelompok untuk meningkatkan bargaining position mereka. (2) Kedua, petani membagi peran dalam kelompok tersebut untuk menjual hasil produksinya. (3) Ketiga, hasil produksi langsung ke pabrik pengolahan karet sehingga harga yang mereka dapatkan lebih tinggi. (4) Kemudian, untuk biaya operasional kelompok bisa diambil secara iuran dari pendapatan mereka. (5) Selain itu juga, perlu ada komitmen dari anggota kelompok untuk menjaga kualitas produksi sehingga pabrik mau membelinya dengan harga yang relatif tinggi.
Namun, untuk implementasi langkah-langkah di atas diperlukan inisiator dan katalisator. Inisiator bisa dari petani itu sendiri yang cukup dipandang dan berani mengambil peran dalam kelompok serta mampu menggerakkan kelompok. Dan untuk mempercepat langkah-langkah tersebut, pemerintah bisa mengambil peran sebagai katalisator sekaligus fasilitator yang mewadahi, mengarahkan dan memfasilitasi apa pun yang dibutuhkan oleh kelompok petani karet. Komunikasi harus terus dilakukan antara inisiator dan katalisator agar bisa membentuk intregated coorporation dan sustainable improvement.
Dengan langkah-langkah ini diharapkan petani bisa memperoleh harga yang layak sesuai dengan jerih payah yang sudah menjadi rutinitas mereka. Dan mereka juga memperoleh kepastian harga sebelum menjual produksinya. Di sisi lain juga, dengan adanya komitmen menjaga kualitas produksi akan memberi keuntungan pabrik pengolahan karet. Serta pemerintah bisa meningkatkan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan petani yang saat ini masih jauh dari harapan.