Perubahan yang Menciptakan Kerinduan
Kembali menulis, namun dengan suasana yang berbeda. Tidak ada kasur dan musik yang menemani, tetapi secangkir kopi selalu setia menginspirasi. Kali ini menulis di dalam bilik-bilik yang menyekati tapi tidak membatasi interaksi. Sekat-sekat yang mengelilingi, dinginnya ruangan ber-AC, juga empuknya kursi yang ditempati, dan meja yang di atasnya terletak telepon dan kalender serta berkas-berkas berserakan yang sering terabaikan. Memang suasana ini yang dulu diharapkan di mana masa depan (sepertinya) terlihat cerah, seperti matahari pagi yang mulai menyusupi jendela-jendela ruang kerja, seakan harapan yang akan selalu ada. Bekerja tanpa banyak menguras tenaga tetapi otak terus bekerja yang kadang membuat kening semakin berkerut dan perut penuh lipatan yang (katanya) menunjukkan arah kemapanan. Namun selalu bersyukur kepada sang pencipta yang (pastinya) menepati janji bagi setiap hamba yang selalu berusaha dan berharap tanpa putus asa.
Masa menjadi mahasiswa telah dilalui dengan penuh kenangan yang pantas dirindukan. Rindu akan dosen yang menjelaskan dengan semangat tapi mahasiswanya masih banyak yang terlambat. Rindu akan tugas yang menumpuk yang dikerjakan di akhir waktu bahkan kadang meminta additional time untuk mengumpulkannya. Rindu bercelana jeans robek-robek dan berbaju apa adanya tanpa harus memperhatikan penampilan. Rindu akan teman-teman yang menghabiskan waktu bersama penuh canda tawa yang pergi kapan pun dan ke mana pun, dan tentu yang paling dirindukan adalah kamu, kamu yang ditemui di kota yang nyaman dan di pagi yang penuh harapan hingga nanti kamu akan dimiliki seutuhnya, dan sepenuhnya bagian dari hidup yang akan kita dijalani bersama.
Ketika telah bekerja, yang dihadapi sebuah tuntutan yang tentunya sudah menjadi kewajiban yang harus diselesaikan. Tak akan lagi menemukan waktu yang cukup luang untuk menghabiskannya dengan teman-teman, tidak bisa lagi pergi kapan pun dan ke mana pun. Yang dipikirkan hanya bagaimana bisa menikmatinya dengan penuh rasa syukur karena dari mahasiswa menjadi pekerja, memang (kadang) membutuhkan waktu yang lama. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun untuk mengubah statusnya. Memang mengubahnya hampir sama susahnya dengan status lajang atau bujangan tanpa pekerjaan menjadi tampan, mapan dan rupawan yang banyak diidamkan wanita-wanita yang ingin segera dihalalkan. Tapi percayalah, sang pemilik langit dan bumi akan menyegerakan apa yang diinginkan ketika kita sudah berusaha memantaskan dan memantapkan.
Dan yang perlu disampaikan untuk yang masih dan sedang berjuang di bangku kuliah, jangan hanya pergunakan waktu bersama buku-buku yang memberikan banyak ilmu, tapi gunakan juga untuk mengeksplorasi hal-hal baru bersama teman-teman untuk membuat kenangan yang pantas dirindukan dan diceritakan. Karena itu tak akan pernah didapatkan dalam buku-buku yang memuat teori dalam kumpulan paragraf yang indah bagi saintis. Dan tak akan diperoleh ketika sudah menjadi pekerja yang harus berpikir logis.